Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada (TPHP UGM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama petani kopi di Padukuhan Gunung Gambar, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta, pada Kamis (2/6). Bertajuk “Penguatan Community Development Kopi Robusta Gunung Gambar melalui Pendampingan Pascapanen Berbasis Riset Aplikatif dan Pembelajaran Kontekstual Pascasarjana,” kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat kapasitas petani dalam pengolahan pascapanen kopi robusta sekaligus menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa pascasarjana.

Kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa Magister Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) dan Magister Teknologi Hasil Perkebunan (THP), serta petani kopi Gunung Gambar. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami kualitas kopi secara langsung, mulai dari budidaya, sortasi, pengeringan, hingga proses roasting.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Dr. Qurrotul A’Yun, S.T.P., M.Sc. selaku moderator, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D. selaku Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perkebunan serta Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc.selaku Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan petani Gunung Gambar menyampaikan bahwa pengembangan kopi di wilayah tersebut telah melalui proses panjang sejak 2017. Pada masa awal pengembangan, petani sempat mengalami dua kali gagal panen hingga hampir menyerah. Oleh karena itu, kegiatan pendampingan ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bersama agar kopi Gunung Gambar dapat memiliki kualitas yang lebih baik dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Materi utama mengenai pengolahan pascapanen kopi disampaikan oleh Dian Anggraini Suroto, S.T.P., M.P., M.Eng., Ph.D.. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa profil aroma kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lokasi geografis, kondisi lingkungan tumbuh, kualitas buah kopi, hingga tahapan pengolahan pascapanen. Ia juga menyampaikan bahwa kopi yang ditanam pada daerah dengan ketersediaan air terbatas cenderung menghasilkan ukuran cherry kopi yang lebih kecil. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap pembentukan komponen flavor dan aroma kopi yang relatif kurang optimal.
Setelah sesi pemaparan materi, mahasiswa berkesempatan untuk melihat langsung kebun kopi, proses penjemuran biji kopi, serta tahapan pengolahan yang dilakukan oleh petani. Dalam kunjungan lapangan tersebut, mahasiswa juga berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan kepada petani terkait praktik budidaya, penanganan pascapanen, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga kualitas kopi.
Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik, mahasiswa kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mengidentifikasi kualitas pohon, daun, dan biji kopi; kelompok kedua mengamati proses sortasi biji kopi; sedangkan kelompok ketiga mempelajari proses roasting kopi. Hasil pengamatan masing-masing kelompok kemudian didiskusikan dan dipresentasikan kepada petani kopi.
Sesi presentasi berlangsung interaktif melalui penyampaian hasil identifikasi mahasiswa dan tanggapan dari petani. Prof. Dr. Ir. Supriyadi, M.Sc., dosen TPHP UGM dengan bidang keahlian kopi, turut memberikan masukan dan umpan balik terhadap hasil diskusi mahasiswa. Melalui sesi ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori pengolahan kopi, tetapi juga belajar membaca kondisi nyata di lapangan serta memberikan rekomendasi berdasarkan pengamatan langsung.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan komitmen TPHP UGM dalam menghubungkan pembelajaran akademik dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan petani, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas kopi Gunung Gambar serta memperkuat daya saing produk kopi lokal.
Kegiatan ini juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem pertanian berkelanjutan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran berbasis pengalaman, serta SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui dukungan terhadap peningkatan nilai tambah produk kopi lokal.
Penulis: Firstnandita Keisha