Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kelas Kewirausahaan bertema “Membangun Mental Entrepreneur Milenial: Kreatif, Inovatif, dan Berani Sukses” pada Selasa, (26/5). Kegiatan ini menghadirkan Anjar Asmoko sebagai narasumber untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai pentingnya membangun pola pikir wirausaha sejak masa kuliah.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak untuk merefleksikan alasan mengikuti kelas kewirausahaan serta tujuan pribadi yang ingin dicapai di masa depan. Melalui sesi ini, mahasiswa didorong untuk mengenali potensi diri, minat, dan kesiapan dalam memasuki dunia usaha.
Anjar Asmoko menyampaikan bahwa calon entrepreneur tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga perlu memiliki keberanian untuk mencoba ide secara langsung. Menurutnya, kemampuan melihat masalah sebagai peluang, keberanian menghadapi risiko, serta kemauan untuk belajar dari kegagalan menjadi bekal penting dalam membangun usaha.
“Menjadi entrepreneur bukan berarti harus langsung memulai bisnis besar. Mahasiswa dapat memulainya dari langkah sederhana, seperti berjualan makanan, membuka jasa desain, menjadi reseller, atau menawarkan les privat. Dari proses kecil itulah kemampuan promosi, komunikasi, pengelolaan keuangan, dan evaluasi usaha dapat terbentuk,” jelas Anjar.
Kelas ini juga membahas berbagai hambatan yang umum dialami calon pengusaha, antara lain rasa takut gagal, kekhawatiran terhadap risiko finansial, kesulitan membagi fokus antara kuliah dan bisnis, keterbatasan modal, serta minimnya pengalaman praktis dalam mengelola tim, pemasaran, dan keuangan. Narasumber menekankan bahwa hambatan tersebut dapat diatasi dengan memulai dari skala kecil, menyusun rencana bisnis sederhana, mengenali pasar, menetapkan tujuan usaha, dan berani mengambil langkah pertama.
Sebagai inspirasi, Anjar turut membagikan pengalaman perjalanan usahanya, salah satunya melalui pengembangan Sate Bang Jo yang tumbuh secara bertahap. Dari satu usaha yang berjalan, ia kemudian mengembangkan berbagai unit usaha lain, seperti JNE Cabang Wonosari, JNE Agen Vibro Mandiri Jogja, Aila Aqiqah, Sembako Aila, Aila Mart, dan Resto Pawon Kembang. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun usaha membutuhkan proses, konsistensi, keberanian, serta kemauan untuk terus belajar.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa juga diperkenalkan pada berbagai ide bisnis yang dekat dengan lingkungan kampus, seperti marketplace kampus, laundry kiloan, jasa cetak digital, penyewaan alat, katering sehat, kursus keterampilan digital, workshop intensif, hingga cafe kolaborasi yang dapat berfungsi sebagai ruang belajar dan coworking space.
Melalui Kelas Kewirausahaan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki ide bisnis, tetapi juga berani memulai, belajar dari kegagalan, dan mengembangkan usaha secara bertahap. Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk membangun pola pikir kreatif, inovatif, mandiri, serta mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Penulis: Firstnandita Keisha