Program Studi Magister Ilmu dan Teknologi Pangan, Departemen TPHP UGM terus memperkuat dukungan bagi mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan magister. Dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan kompetensi akademik, penelitian, dan pendampingan studi, tetapi juga melalui perhatian terhadap aspek personal serta kesehatan mental mahasiswa.
Sebagai salah satu bentuk dukungan tersebut, Program Studi Magister Ilmu Teknologi Pangan (ITP) menggelar kuliah tamu bertajuk “Navigasi Ekspektasi dan Kegagalan: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Akademik” pada Rabu (30/9) di Auditorium Kamarijani-Soenjoto FTP UGM. Kegiatan ini wajib diikuti oleh mahasiswa Magister ITP dan Program Studi Magister Teknologi Hasil Perkebunan, serta dapat diikuti oleh sivitas akademika FTP UGM lainnya.
Kuliah tamu menghadirkan Regis Machdy, M.Sc., National Mega Best Selling Author buku Loving the Wounded Soul sekaligus Co-founder Pijar Psikologi. Dalam sesi tersebut, Regis mengajak mahasiswa melihat perjalanan akademik secara lebih utuh. Menurutnya, proses menempuh pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan tuntutan untuk berprestasi dan produktif, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk mengenali kondisi diri, beradaptasi, serta mengelola berbagai tekanan yang muncul selama masa studi.
Regis menjelaskan bahwa tekanan akademik dapat berasal dari berbagai situasi, mulai dari ujian, tugas dan tenggat waktu, tuntutan sosial maupun keluarga, masa transisi, hingga persoalan finansial. Apabila tuntutan yang dihadapi secara terus-menerus lebih besar dibandingkan sumber daya yang dimiliki untuk menghadapinya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi burnout. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain kelelahan secara mental dan emosional, sikap sinis atau apatis terhadap studi, serta berkurangnya keyakinan terhadap kemampuan akademik diri sendiri.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam sesi tersebut adalah pentingnya mahasiswa untuk tidak menjadikan pencapaian akademik sebagai satu-satunya dasar dalam membentuk identitas diri. Regis mengajak peserta memahami perbedaan antara sebuah peristiwa, label yang diberikan kepada diri sendiri, dan prediksi mengenai masa depan. Hasil ujian yang kurang memuaskan maupun kegagalan dalam suatu proses akademik merupakan sebuah peristiwa yang dapat dievaluasi dan menjadi bahan pembelajaran. Hal tersebut tidak serta-merta menentukan nilai diri seseorang ataupun keberhasilannya di masa mendatang.
Untuk membantu mahasiswa menghadapi tekanan selama studi, Regis turut membagikan sejumlah strategi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya mencakup menjaga pola tidur dan makan, rutin melakukan aktivitas fisik, membangun relasi dan dukungan sosial, serta berani berbagi cerita dan meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan praktik seperti journaling, latihan pernapasan, dan mindfulness sebagai bagian dari upaya mengelola kondisi diri.
Selain menjaga kesehatan fisik dan mental, mahasiswa juga didorong untuk tetap memiliki aktivitas serta identitas di luar kehidupan akademik. Dengan demikian, kehidupan mahasiswa tidak hanya berpusat pada capaian studi. Regis turut mengingatkan pentingnya memanfaatkan layanan konseling maupun bantuan profesional apabila kondisi yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa juga diajak membangun kebiasaan untuk mengapresiasi diri dan mensyukuri berbagai hal yang dimiliki, sekaligus mengurangi penggunaan gawai untuk aktivitas scrolling yang tidak diperlukan. Pengelolaan stres, menurut Regis, perlu dilakukan secara konsisten melalui kebiasaan sehari-hari. Menjaga kesehatan mental bukanlah proses yang menghasilkan perubahan secara instan, melainkan membutuhkan perhatian dan upaya yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Program Studi ITP dan Departemen TPHP berharap mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika kesehatan mental selama menjalani pendidikan magister sekaligus memperoleh strategi yang dapat diterapkan dalam menghadapi tekanan akademik. Mahasiswa diharapkan mampu mengenali tanda-tanda stres dan burnout, membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan fisik dan mental, serta terbuka untuk mencari dukungan ketika menghadapi berbagai tantangan.
Dengan dukungan tersebut, proses pendidikan di tingkat magister diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengembangkan kompetensi akademik dan keilmuan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan pribadi yang tangguh, adaptif, dan mampu menjaga keseimbangan dalam menghadapi berbagai tuntutan.